Sudah lebih dari satu bulan sejak “Hello Freakshow” diselenggarakan di Malang, namun baru hari ini saya bisa menuliskannya. Biasanya, kalau sudah terlambat lama sekali seperti ini, alasan saya cuma satu: keterbatasan waktu. Namun jujur saja, kali ini bukan itu alasan yang membelenggu.
Bagi saya, “Hello Freakshow” adalah pameran yang rumit untuk diuraikan dalam tulisan. Rumit, karena isinya kocar-kacir kesana kemari. Visinya apa, misinya kemana, dan eksekusinya bagaimana, terlihat tak sejalan, tak koheren sama sekali. Kondisi inilah yang lalu membuat saya menghabiskan waktu sangat lama untuk menguraikannya dalam bentuk tulisan, karena saya harus terlebih dulu mengurutkan yang kocar-kacir itu, baru lalu menemukan mana yang keliru. Hasilnya lumayan. Setidaknya, saya jadi bisa menuliskannya sekarang dengan kesimpulan yang saya yakini benar: bahwa “Hello Freakshow” masih dikerjakan dengan setengah matang. Dan saya punya dua alasan kenapa saya menyebutnya demikian.
…
“Hello Freakshow” senyananya adalah judul pameran tunggal dari seorang seniman muda kelahiran Malang bernama Dias Prabu. “Hello Freakshow” menjadi pameran tunggal keempat dari Dias, setelah di tahun-tahun sebelumnya, Dias berpameran tunggal di Rumah Tembi Yogjakarta dan Jakarta, juga di Jogja National Museum. Di Malang, pameran ini diadakan dua sesi, di dua kafe yang berbeda. Sesi pertama, pameran ini digelar di public house sempit berlantai tiga bernama Houtenhand, kafe asuhan Donny “Freshwater Fish”. Lalu dilanjut ke sesi kedua di Legipait, kafe yang lebih sempit lagi, asuhan Nova Ruth. Karya yang dipamerkan di dua tempat ini, berbeda. Sehingga, jika dijumlah, maka total keseluruhan karya dalam pameran ini adalah lebih dari 30 karya.
Karya-karya yang dipamerkan di “Hello Freakshow” adalah karya-karya bergenre pop surealis yang mengusung figur gendut. Dias, sang seniman, memang dikenal sebagai seorang seniman bergaya pop surealis yang konsisten mengeksplor figur gendut, dimulai sejak ia mendalami penciptaan seni lukis di UNESA, lalu berlanjut ke ISI Yogjakarta. Motivasi dasarnya terbentuk dari dua hal: kekasihnya yang bertubuh gendut dan karya-karya Fernando Butero. Visinya, secara tersurat, adalah “ingin memberikan satu pengertian tersendiri kepada orang-orang yang bertubuh gendut agar selalu percaya diri dengan tubuh yang mereka miliki.” Satu visi, yang boleh dibilang, mulia, yang sayangnya tak dikerjakan dengan matang seksama. Apa sebab yang mendasarinya?
Sebab pertama: katalog yang berantakan
Saya termasuk orang yang menganggap penting keberadaan katalog dalam sebuah pameran, baik itu pameran tunggal maupun pameran kelompok. Ini karena katalog adalah alat bantu pertama yang bisa diperoleh oleh publik ketika karya seniman terlalu sulit untuk dipahami. Oleh karena itulah, penting untuk memperhatikan bagaimana katalog tersebut dibuat. Desain layout, tulisan pengantar, hingga bentuknya (apakah berbentuk buku atau lembaran) patut dipertimbangkan dengan matang karena hal-hal itulah yang nantinya mempengaruhi persepsi publik tentang sebuah pameran. Saya rasa, untuk seorang seniman seni rupa, hal-hal seperti ini sudah jadi konsumsi sehari-hari karena saya pikir mereka juga mempelajari tentang semiotika visual dan sejenisnya. Jadi, terus terang saja, saya cukup kaget melihat katalog yang diproduksi untuk pameran tunggal Dias yang berjudul “Hello freakshow” itu. Sungguh, berantakan sekali rupanya.
Katalog yang saya bicarakan disini adalah katalog dari sesi kedua pameran Dias, yaitu yang diselenggarakan di Legipait. Saya tak mendapat katalog dari sesi pertama, yaitu yang di Houtenhand, karena saya kehabisan stok. Jadi saya tak tahu bagaimana rupa katalog sesi pertama itu. Mudah-mudahan saja berbeda dari yang saya punya.
Katalog yang saya punya terdiri dari satu lembar art paper berukuran kurang lebih A3. Dias memanfaatkan kedua sisi lembaran tersebut untuk memuat enam hal. Pertama, empat pengantar dari empat orang yang berbeda, dengan panjang tulisan yang berbeda pula. Kedua, biodata pribadi Dias, termasuk daftar pameran tunggal dan pameran kelompok yang pernah ia ikuti, yang lumayan panjang. Ketiga, logo sponsor yang mendukung pameran tunggalnya. Keempat, hari dan tanggal tempat pameran sesi keduanya diselenggarakan. Kelima, foto-foto karyanya yang dipamerkan di sesi kedua tersebut, beserta keterangannya (seperti judul, dimensi, dan medium). Lalu terakhir, adalah kalender 2013.
Apa yang saya sebut berantakan dalam katalog Dias ini adalah desain layoutnya. Bagaimana tidak berantakan jika keenam hal yang ingin dimuat Dias itu dimampatkan dengan paksa pada satu lembar art paper berukuran A3? Hasilnya jadi kurang memuaskan. Hal-hal penting seperti tulisan pengantar dan foto-foto karya jadi terabaikan. Tulisan pengantar dimuat dengan ukuran sangat kecil, hingga sulit dibaca. Sedangkan, foto-foto karyanya dimuat dengan ukuran minimal, hingga sulit dilihat jelas gambarnya. Padahal dua hal inilah yang penting dalam sebuah pameran, apalagi pameran tunggal. Heran saya.
Tapi, sebenarnya yang paling mengherankan dalam katalog itu adalah, ketika space kertas seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal penting seperti kata pengantar dan foto karya, Dias malah sempat-sempatnya memasukkan kalender 2013 disana, yang memakan seperempat bagian dari dua sisi kertas A3 tersebut. Ada apa dengan kalender tersebut? Apa Dias ingin publik melingkari dan mengingat betul tanggal pameran tunggalnya?
Sebab kedua: visi yang mulia, tapi miskin pemahaman
Saya sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan seorang seniman yang mendasarkan proses berkaryanya pada visi yang mulia. Visi yang mulia disini maksudnya adalah visi-visi yang misinya adalah empowering orang lain lewat karya. Apa yang saya permasalahkan adalah bila visi yang mulia tersebut memiliki miskin pemahaman terhadap perkembangan pergerakannya, karena efeknya lumayan besar: visinya jadi tak terlaksana dengan matang, misinya jadi tak relevan, dan eksekusi karyanya jadi salah jalan.
Inilah, yang menurut saya, terjadi pada pameran tunggal Dias. Visinya, yang secara tersurat, adalah “ingin memberikan satu pengertian tersendiri kepada orang-orang yang bertubuh gendut agar selalu percaya diri dengan tubuh yang mereka miliki” jadi tak sampai pada publik dengan benar karena ia kurang pemahaman tentang perkembangan pergerakan empowering figur gendut di masa sekarang. Hasilnya, ya jadi begitu. Pamerannya jadi terkesan ketinggalan zaman, dan kurang populer.
Mengenai perkembangan pergerakan empowering figur gendut, menurut saya, titik perkembangannya saat ini sudah sampai pada titik yang maksimal. Televisi dan dunia maya, dua medium komunikasi yang populer saat ini, telah dengan keras mengangkat figur gendut ini agar tak lagi dimarjinalkan.
Dari program televisi Indonesia, FTV misalnya, masih sering menggambarkan figur gendut sebagai teman setia tokoh utama yang selalu ada saat dibutuhkan juga pintar menghibur dengan gayanya yang natural. Dari program televisi luar, Glee, serial terkemuka, juga berbuat hal yang sama, bahkan lebih. Lauren Zizes, karakter gendut dalam serial Glee, direpresentasikan sebagai gadis bertubuh gendut yang percaya diri pada tubuhnya, hebat dalam olahraga gulat, mampu bercinta dan dicintai oleh seorang pria berukuran normal, dan pintar secara akademis.
Tidak hanya program televisi yang berbuat demikian. Dunia kesehatan pun telah menerbitkan artikel tentang gendut, yang isinya adalah bahwa menjadi gendut bukan berarti lebih buruk dari yang kurus. Mereka menyebutnya obesity paradox, yang berarti thinner may mean sicker. Salah satu paradoksnya adalah pada penderita diabetes, dimana mereka menemukan bahwa penderita diabetes yang memiliki berat badan normal, malah mempunyai potensi untuk meninggal dua kali lipat lebih besar dari penderita diabetes yang memiliki berat badan berlebih. Ini berarti dunia kesehatan pun tak mendiskreditkan orang gendut. Bahkan, di beberapa artikel mereka menyatakan bahwa menjadi gendut dan sehat sama levelnya dengan menjadi langsing dan sehat, sehingga orang-orang gendut tak perlu malu lagi dengan tubuhnya.
Itu baru dari program televisi dan artikel ilmiah yang diterbitkan secara terbuka. Belum lagi dari dunia maya, yang menyajikan beribu informasi tentang gendut, baik berupa tulisan maupun karya seni visual, yang berusaha meyakinkan orang gendut untuk terus percaya diri dengan tubuhnya. Kalau sudah begini, jelaslah visi Dias yang sekedar “ingin memberikan satu pengertian tersendiri kepada orang-orang yang bertubuh gendut agar selalu percaya diri dengan tubuh yang mereka miliki” akan terasa kurang berkontribusi dalam pergerakan itu. Karya-karyanya jadi cenderung menampilkan kelebihan figur gendut yang memang sudah diketahui keberadaannya. Arah citra gendut jadi tak kemana-mana. Satu contohnya adalah karya Dias yang menggambarkan superhero yang gemuk. Figur seperti ini sudah banyak yang pakai di dunia maya. Sinisme seperti ini sudah overused. Hanya saja memang beda gayanya. Tapi kalau cuma beda gaya, apa yang istimewa?
Berbicara tentang sinisme, selain kesulitan mengikuti perkembangan pergerakan figur gendut di jaman sekarang, Dias juga tampaknya sedikit kesulitan untuk melakukan humor satir. Bahkan, ia cenderung keliru memanfaatkan sifat humor satir yang menjadi ciri khas gaya pop surealis. Contohnya, pada karyanya yang menggambarkan dua figur gemuk yang sedang melakukan humor satir tentang merokok dengan bahasa Malangan. Apakah dengan karya ini, Dias ingin bilang bahwa kelebihan orang gemuk itu adalah tak kalah satir dengan orang yang bertubuh kurus atau ‘ideal’? Apa istimewanya dengan itu?
Kekeliruan yang sama juga terjadi pada karyanya yang berjudul “don’t look the big just from the body” dengan tagline “kepala besar bukan berarti besar kepala”. Sebuah karya yang menggambarkan satu figur gemuk berpakaian cukup dandy (celana monyet bertali bintang-bintang dengan sabuk tengkorak), yang sedang memegang tali pengekang babi peliharaannya, yang terlihat lesu di tangan kirinya. Seperti judul dan tagline karyanya, hal yang “istimewa” dari figur gemuk satu ini adalah kepalanya. Kepalanya terlihat seperti gabungan paksa dari beberapa kepala monster yang berbeda, sehingga bentuknya besar dan tak karuan. Tak indah, cenderung mengerikan.
Dalam karya satu ini, Dias terlihat berusaha keras terlihat satir (terutama lewat tagline itu), tapi gagal. Satirnya tak jelas untuk siapa dan untuk apa. Seharusnya kalau dia memang ingin satir pada yang hanya melihat tubuh ketika menilai seseorang, dia membuat kepalanya, atau minim wajahnya, enak dilihat. Atau kalau dia ingin mengarahkan orang untuk lebih menilai sifat seseorang ketimbang tubuhnya, ia buat figur gemuk tersebut punya citra baik. Tapi ini kepala, wajah, dan citra (menurut saya, simbol dandy dan babi itu adalah citra jelek), dibuat buruk. Lalu kemana akhir perjalanan satirnya? Apalagi ia menambah lapisan satir lagi diatas satir yang tak tentu arah itu dengan tagline “kepala besar bukan berarti besar kepala”. Maka semakin pusinglah yang ingin mengikuti arah satirnya. Apa ini yang diinginkan Dias sebagai seniman bervisi mulia?
…
Setengah matang dalam berkarya, biasanya terjadi karena sang seniman kurang referensi atau kurang melakukan riset sebelum memutuskan mau kemana arah isu yang ia bicarakan. Jadinya, isi pembicaraan karyanya normatif dan hanya dipermukaan saja. Ini yang membuat karyanya basi, hingga lalu tak menarik perhatian. Kalaupun menarik perhatian, paling hanya digunakan untuk menyegarkan mata pengunjung yang sudah lelah bekerja. Jika sudah begitu, maka karya seni akan kehilangan kewajiban utamanya, yaitu memberikan kontribusi pemikiran baru pada hal-hal sekitarnya. Ini sayang sekali, karena dengan seni-lah pemikiran baru itu akan sampai dengan cara yang mudah diingat oleh publik karena menyenangkan dan unik.
Sungguh, setengah matang itu tak enak kawan. Kurang sehat, kalau kata dokter saya bilang.
Cheers
Oming
Pertama kali melihat karya Irwan Ahmett di youtube berjudul “Blindness Test” beberapa tahun silam, saya langsung suka dengan seniman berperawakan tinggi kurus ini. Cara Iwang, panggilan akrab Irwan Ahmett, dan Tita Salina, istrinya, untuk meng-art-kan publik sangat rendah hati, ramah, dan menyenangkan. Sehingga, pendekatan langsung yang mereka lakukan mampu diterima oleh publiknya dengan hati senang. Saya pun semakin suka dengan karya Iwang setelah saya menonton video proyeknya di desa Jatiwangi yang melibatkan masyarakat desa tersebut. Apalagi mengetahui bahwa Iwang pun turut serta menggubah lagu soundtrack dalam video itu, yang mana terdengar riang dan asik untuk dinyanyikan, maka semakin meningkatlah rasa suka saya pada karyanya yang low profile dan pada Iwang sebagai seorang seniman.
Sayangnya, rasa suka saya ini mengalami gangguan saat saya menonton video podcast Iwang yang diunggahnya beberapa hari lalu di situs youtube. Dalam video yang berdurasi 17:47 menit itu, saya melihat sisi lain Iwang yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sisi lain yang menurut saya tak konsisten dengan prinsip Iwang selama ini sebagai seorang seniman public art. Padahal, saya berharap video itu dapat semakin meningkatkan rasa suka saya pada Iwang dan karya-karyanya. Namun, inkonsistensi Iwang yang terlihat dalam video itu, sedikit membuat saya kecewa.
…
Video berdurasi 17:47 menit itu berjudul “Hacking Public Spaces and Influence People”. Video itu diunggah oleh Iwang pada tanggal 18 Februari 2013 di situs youtube lewat akunnya “irwan ahmett”. Dalam keterangan videonya, ditulis bahwa video itu berisi cerita Iwang soal urban intervention, tactics, and Indonesian national revolution period. Sumber lain menulis bahwa video itu adalah rangkuman proyek-proyek Iwang yang dilakukannya selama ini. Kedua keterangan ini benar karena setelah saya menontonnya, video ini memang berisi hal-hal yang disebutkan sebelumnya. Tetapi, ternyata tidak hanya itu saja yang ada dalam video itu. Dalam video itu, ternyata juga terlihat dua kekurangan Iwang sebagai seorang seniman.
Kekurangan Iwang pertama yang saya lihat dalam video itu adalah ketidakpercayaan diri Iwang pada prinsip “playing” yang ia usung. Ketidakpercayaan diri Iwang ini terlihat dari menit-menit pertama video itu, dimana Iwang menggunakan kisah heroik masyarakat Indonesia dalam melawan ketidakadilan, diantaranya adalah perobekan bendera Belanda di Surabaya, naiknya Pong Harjatmo ke atap gedung DPR, dan Bandung Lautan Api, untuk memperkuat keputusannya memilih prinsip “playing” sebagai pedomannya setiap berkarya seni.
Ia memanfaatkan kesamaan dari kisah-kisah itu, yaitu perjuangan besar yang dipersenjatai oleh hal-hal simple (contohnya “hanya” dengan merobek bendera, bangsa Indonesia semangat melawan penjajah. Atau “hanya” dengan berbekal cat semprot, Pong Harjatmo berani memperjuangkan haknya), sebagai pembenaran dari prinsip “playing” yang ia pegang untuk mengintervensi public spaces. Padahal, dengan kisah masa kecilnya saja (yang untungnya juga ia ceritakan disini), dimana ia bercerita bahwa di waktu kecil ia sangat suka bermain sehingga ia ingin mengembalikan insting bermain yang sudah ada secara alami di tiap manusia itu lewat karyanya, saya sudah bisa setuju (sangat setuju) dengan perspektif “playing” Iwang. Namun, sayangnya Iwang tak percaya pada kekuatan kisah masa kecilnya, sehingga ia merasa harus melibatkan peristiwa-peristiwa besar sebagai fondasi. Kemana kepercayaan Iwang terhadap hal-hal simple tadi?
Kekurangan kedua Iwang yang muncul dari video itu, adalah ke-kurang rendah-an hati Iwang. Ini terlihat dari satu karya yang ia sebutkan dalam video itu, yang masih eksklusif, susah dimengerti, juga jauh dari prinsip “playing”, sebagai prinsip utama Iwang. Karya itu berjudul “Very-Very Important Fish”. Satu proyek yang Iwang buat pada tahun 2012 untuk menjalankan taktik yang ia sebut “Melakukan Persengkongkolan”. Dalam video itu, sebagai pengantar, Iwang bercerita.
“Seperti yang kita tahu di negara Indonesia, khususnya di Jakarta, ada beberapa simbol yang diketahui secara umum, yaitu bendera kuning sebagai simbol untuk kematian dan membawa jenazah dari satu tempat ke tempat pemakaman umum. Dan saya mencoba untuk mempergunakan sistem ini untuk melakukan hacking di ruang publik, untuk memasukkan konteks lingkungan,” jelasnya.
Dari pengantar itu, video lalu berlanjut memperlihatkan seorang laki-laki menggunakan helm biru (yang yakin saya adalah Iwang sendiri), turun ke sebuah sungai besar yang penuh dengan tumpukan sampah. Dari tumpukan sampah itu, Iwang lalu mengambil satu ikan kecil dengan tangannya. Caranya seperti kalau kita menangkap ikan di pasar ikan, dimana kita menangkupkan kedua tangan kita untuk membentuk sebuah bejana yang dapat menampung ikan dan airnya.
Setelah berhasil menangkap ikan tersebut, Iwang lalu membawanya keluar dari sungai. Ia pun lalu membawa ikan itu pergi menggunakan motor, dimana ia dibonceng oleh temannya, ke tempat yang belum diketahui jelasnya. Iwang dikawal oleh beberapa temannya yang lain selama perjalanan ke tempat yang belum jelas itu. Dengan juga menaiki motor, teman-teman Iwang mengawal sambil membawa bendera kuning. Seperti layaknya proses membawa jenazah, rombongan ini membunyikan sirene juga berkali-kali memberhentikan lalu lintas untuk memberi jalan pada Iwang dan ikan di tangkupan tangannya. Kehebohan yang menarik perhatian seorang pejalan kaki untuk bertanya pada salah seorang teman Iwang. “Mana jenazahnya?” tanya laki-laki itu. “Dibelakang” jawab teman Iwang.
Selama perjalanan, untuk mencegah ikan ini mati, Iwang terus-terusan meminta tolong teman yang memboncengnya untuk menuangkan air ke tangkupan tangannya yang selalu habis karena perlahan keluar dari sela-sela jemarinya juga menguap karena udara panas di siang hari. Setelah 16,2 km menempuh perjalanan dengan motor yang heboh itu, Iwang pun sampai di sebuah sungai besar lain yang memiliki air lebih jernih dari sungai asal ikan itu. Iwang lalu melepaskan ikan itu di sungai tersebut dengan hati-hati. Video itu pun ditutup dengan lambaian bendera kuning dari teman-teman Iwang.
Karya ini, menurut saya tidak menunjukkan kerendahan hati Iwang dalam berkarya, seperti yang biasanya ia lakukan, karena tiga alasan.
Pertama, saya tak yakin publik yang mengalami kehebohan Iwang dan teman-temannya untuk menyelamatkan ikan itu mengerti apa yang Iwang dan teman-temannya lakukan. Kalau saya disana, berada di jalan yang sama dengan Iwang, saya pasti bingung dengan apa yang mereka lakukan. Apalagi, saat ditanya, contohnya oleh pejalan kaki itu, Iwang dan teman-temannya tak memberikan keterangan yang jelas. Cuma menjawab singkat saja dan meninggalkan pejalan kaki itu dalam kebingungan.
Hal ini tentu mengecewakan karena Iwang biasanya membuat karya yang dekat dan ramah dengan publiknya. Ia melakukan interaksi yang intim dan menjunjung kolaborasi, dimana ia dan publik berada dalam garis yang sejajar, sehingga tak ada yang lebih pintar dari yang lainnya, setiap Iwang berkarya. Ini yang membuat saya heran ketika Iwang seperti sengaja menciptakan kebingungan di publik, sehingga ia menjadi yang lebih tahu dari yang bertanya. Ini membuat karyanya menjadi eksklusif dan susah dimengerti karena publik yang tak akrab dengan seni, yang sebenarnya adalah target utama Iwang, bingung dengan karyanya yang ini.
Eksklusifitas dalam karya ini lalu mengarahkan saya pada alasan kedua kenapa saya sebut karya Iwang yang satu ini tidak rendah hati. Ini karena karya ini, menurut saya, jauh dari prinsip “playing” yang selama ini Iwang lakukan. Menurut catatan saya, Iwang, dalam berkarya, memposisikan “playing” dalam tiga jenis, yaitu playing untuk memperindah yang rusak (ini seperti pada karyanya berjudul “Jakarate”), playing untuk break a conventional routine (seperti pada karyanya berjudul “Dancing Umbrellas” atau “Blindness Test”), dan playing untuk menyindir (seperti pada karyanya berjudul “Public Furniture”, “TV Militia”, atau “Palestine T-Shirt”).
“Very-Very Important Fish”, sementara itu tak masuk dalam tiga jenis “playing” yang biasanya Iwang lakukan. Ini karena karya ikan ini tak melibatkan publik untuk bermain, tetapi melibatkan publik untuk memberhentikan kendaraan mereka tanpa alasan yang jelas, yang mana bagi logika awam publik (apalagi di Jakarta dengan tingkat lalu lintas tinggi) bukanlah termasuk dalam kegiatan bermain. Kalaupun Iwang ingin memasukkan karya ini sebagai playing to break a conventional routine, dimana biasanya masyarakat memberhentikan lalu lintas untuk memberi jalan pada iringan jenazah manusia, meng-hack rutinitas ini dengan merubahnya menjadi bentuk penghormatan kepada jenazah ikan bukanlah keputusan yang bijak. Ini seperti memaksakan kegiatan bermain dalam pemahaman Iwang ke logika publik. Bukannya mengembangkan pemahaman publik tentang kegiatan bermain ke ranah yang berbeda, seperti yang biasanya ia lakukan. Membuat karyanya hanya menjadi kegiatan bermain untuk Iwang dan teman-temannya sendiri.
Alasan ketiga, alasan terakhir saya menyebut karya Iwang ini tak rendah hati adalah karena ketidaksesuaian visi Iwang untuk membuat ikan itu menjadi penting sesuai judulnya yaitu “Very-Very Important Fish” dengan cara ia memperlakukan ikan tersebut. Ini karena memindahkan ikan dengan tangan kosong sesungguhnya bukanlah cara yang sehat untuk ikan itu sendiri. Setahu saya, kulit ikan tak akur dengan suhu tubuh manusia. Sehingga, kulit ikan akan mudah terbakar jika menyentuh kulit manusia secara langsung.
Dalam video “Very-Very Important Fish”, Iwang berkali-kali meminta air kepada temannya untuk dituangkan ke tangkupan tangannya. Jika diperhatikan, saat meminta air itu, ikan sudah benar-benar kehabisan air dan bersentuhan langsung dengan tangan Iwang. Dengan pengetahuan saya soal kulit ikan itu, melihat ini saya bukannya senang atau kagum dengan cara Iwang menyelamatkan ikan. Tetapi, malah sedih karena Iwang lebih memilih untuk membawanya dengan tangan kosong untuk memperkuat konsep daripada memikirkan nasib ikan itu. Apalagi membawanya sangat jauh, sejauh 16,2 kilometer, di siang hari, yang mana tingkat penguapan air sangat tinggi. Memang kulit ikan akan sembuh sendiri saat menyentuh air, tapi rasanya kita tak boleh menggunakan alasan itu untuk menyiksanya bukan? Dari sini, siapa yang sebenarnya tidak mementingkan nasib ikan itu?
Namun, meski inkonsistensi dalam video Iwang ini membuat saya sedikit kecewa, tingkat kagum saya terhadap karyanya masih sama. Karya “Squeaky Sidewalk” yang diceritakan dalam video itu adalah salah satu proyeknya yang membuat saya tetap kagum pada keseriusan Iwang bermain-main, selain proyek-proyeknya yang lain seperti “Change Yourself”, “Mad Mud”, “Beatbox Fireworks” atau pameran tunggalnya berjudul “Happiness”. Jujur saja, lewat karya-karya Iwang, saya malah belajar bagaimana menggabungkan keseriusan dengan pleasure yang sepengalaman saya selalu coba dipisahkan. Hingga, menurut saya, alih-alih berdasar pada prinsip “never take life seriously. Nobody gets out alive”, Iwang sebenarnya lebih cenderung pada tagline “take your pleasure seriously”. Karena jika melihat caranya berkarya dan merespon segala sesuatu disekitarnya, Iwang tetap fun tanpa menghilangkan keseriusan tingkat tinggi di dalamnya.
Oming :)
Link ke video Iwang http://www.youtube.com/watch?v=CcUrwurGPb8
Selama ini, saya selalu menjaga tata krama dalam tulisan saya. Saya selalu menyeleksi ketat paduan kata yang saya tuliskan juga tema yang saya angkat, apalagi kalau tulisan itu membahas tentang orang yang saya kenal secara personal.
Di satu sisi, kebiasaan ini memang memberikan dampak bagus karena dengan begitu saya tidak akan dibenci orang-orang sekitar. Saya tak akan takut bertemu orang-orang yang saya tulis karena dengan tulisan yang begitu sopan, hubungan kami aman, nama baik saya terjaga nyaman. Bahkan, beberapa hubungan baik yang kini saya jalani berawal dari tulisan yang sopan ini.
Namun belakangan, ketika saya kembali membaca tulisan-tulisan itu, ada satu sifat jelek yang lalu tersembul muncul akibat sopannya paduan kata yang saya pakai, terutama ketika saya membaca tulisan-tulisan lama di awal-awal tahun 2012. Butuh waktu lama memang untuk menyadari ini karena ternyata saya tergolong penulis yang suka dipuji. Kalau ada orang yang bilang tulisan saya bagus (entah dengan motif apa, mungkin karena saya pun menulis bagus tentangnya), langsung saja hati saya membuncah dan bahagia. Lupa bahwa ada hal lain yang harusnya lebih saya perhatikan daripada pujian itu. Untungnya, residensi di Cemeti berdampak besar pada mental saya, hingga saya lalu menemukan sifat jelek ini dan fokus untuk menghilangkannya.
Sifat jelek itu adalah kebiasaan saya “gampang maklum” pada orang yang saya kenal. Apalagi orang-orang yang saya idolakan. “Gampang maklum” itu tersirat dari bagaimana saya mencoba mencari-cari hal-hal baik dari orang yang sebenarnya ingin saya kritik. Saya selalu bersembunyi di belakang dalih “mencintai proses daripada hasil”, sehingga sejelek apapun hasilnya kalau proses yang orang itu lakukan menyenangkan untuk didengar, saya akan selalu bilang “bagus” dan mengangguk setuju. Padahal, logikanya, hasil yang bagus pastilah sudah menempuh proses yang serius dan bagus pula. Ini yang sayangnya sering saya lupa.
Sifat ini jelek karena gara-gara itu, saya jadi suka sering menyembunyikan opini asli saya. Saya menyembunyikan opini asli itu karena saya pikir opini itu akan melukai hatinya dan membuatnya tak lagi ingin berkarya. Satu hal yang sebenarnya harus dihindari oleh anak muda jaman sekarang. Saya jadi lebih memilih untuk menuliskan hal-hal bagus dari seseorang dengan paduan bahasa yang indah agar semakin dramatis dan menyenangkan untuk dibaca. Kalaupun saya menemukan hal-hal yang kurang, saya akan membelokkannya dengan memberikan alasan-alasan selogis mungkin agar pembaca mendapat hal-hal yang bagus saja. Belakangan saya lalu juga sadar, kepercayaan saya bahwa semua orang itu pada dasarnya baik, menjadi sumber lain munculnya sifat jelek di diri saya ini.
Berkaitan dengan usaha untuk menghilangkan sifat jelek inilah, saya lalu memberanikan diri untuk mengeluarkan semua apa yang saya pikirkan tentang satu hal di tulisan berikut ini, yang lebih berbentuk transkrip mentah dari diskusi antara saya dan Hilmi. Ujung-ujungnya memang terasa sangat kasar dan tak beraturan, berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, hingga mengundang banyak komentar negatif dari teman-teman. Namun, saya merasakan kelegaan tak terhingga setelah saya menyelesaikannya karena ternyata saya mulai berani mengeluarkan opini, meski opini itu tak seindah pelangi. Apa yang lalu bisa saya perbaiki kemudian dari sini, untuk tulisan selanjutnya, adalah menuliskan opini saya yang berani itu dengan runtut dan rapi, juga minim emosi. Dengan begitu, tulisan saya diharapkan akan lebih dewasa, serius, namun juga santai di satu sisi.
Untuk memberikan pilihan kepada pembaca, antara membacanya atau mengabaikannya, saya sengaja menggunakan kata “rasan-rasan” dalam judulnya. Ini untuk memberitahu pembaca bahwa tulisan (transkrip diskusi) ini, layaknya rasan-rasan, sangat kasar dan subjektif isinya. Sehingga, pembaca dapat mengantisipasi apa yang mungkin terjadi setelah ia membacanya.
Agar tak panjang lebar lagi, berikut tulisan pertama saya yang sungguh-sungguh blatantly honest, yang keluar dari diri saya.
Selamat membaca…
Salam,
Oming :)
…

Sekitar lima hari lalu, saya (oming) berkunjung ke rumah Didik “Painsugar” dan Rio Krisma di kawasan Batu. Hari itu saya memang sengaja datang ke sana untuk menanyakan beberapa hal terkait dengan Pena Hitam, sebuah fanzine seni ngeri, yang mereka rilis di bulan Januari Silam. Selama tiga jam, kami mengobrol santai tentang fanzine mereka itu. Mulai dari latar belakang, hingga visi mereka ke depan. Untuk sesaat, saya mengira semua pertanyaan saya terjawabkan. Namun ternyata, ketika saya kembali pulang ke Malang dan berdiskusi dengan Hilmi tentang hasil kunjungan saya, muncul lagi pertanyaan lain di kepala.
Berikut inti diskusi saya dan Hilmi lima hari silam. Isi diskusi ini mungkin tak seseru tulisan brilian remaja berumur 16 tahun di Jakartabeat akhir-akhir ini. Tetapi, meskipun demikian, ada beberapa hal penting tentang fanzine Pena Hitam yang kami bahas. Sambil makan malam, beginilah yang kami bicarakan soal Pena Hitam.
…
H: gimana menurutmu pena hitam?
O: pena hitam itu kalau diliat dari movementnya, yang di grup facebook itu, bagus. Oming jadi inget visinya mas rio yang dulu pernah dia ceritain ke kita. Kalau dia pengen ngangkat seniman-seniman bergenre “serem” ke permukaan. Melihat pena hitam sekarang sudah berkembang dari cuma beranggotakan 4-5 orang yang pameran di Malang, terus jadi grup facebook yang membernya udah ratusan dan aktif, oming seneng. Apalagi kalau dilihat-lihat perkembangannya udah semakin luas. Ini bisa dilihat dari karya yang ikut di grup facebook itu yang mulai macem-macem wujudnya. Ga cuma gambar tengkorak aja yang ikut, tapi yang gambarnya manis-manis juga ikut tampil. Cuma fanzinenya kayak kurang garang spiritnya.
H: Kalo spirit dalam artian kurang “isi” iya, setuju. Yang edisi pertama ini nanggung. Kualitas produksinya lumayan, kertasnya bagus, cetakan juga mantap (sayangnya gak berlaku untuk poster). Tapi ndak imbang sama isinya. Secara artwork beberapa secara eksekusi biasa aja, korelasi sama tema “dark. Cult, bad ass, evil” juga kayak asal tempel. Mungkin salah temanya juga terlalu lebar kali ya?
O: Soal tema ini sayangnya kemarin lupa oming tanyain langsung alasan pemilihannya ke mas didik dan mas rio. Cuma kalau boleh dikira-kira, mereka milih tema itu kayaknya karena pengen mengakomodir karya dari temen-temen di facebook. Kayaknya mereka mikir, gimana caranya biar karya dari temen-temen yang karakter temanya beda-beda itu bisa masuk ke fanzine. Mereka kan spirit bikin fanzine itu buat mengakomodir, buat empowering. Jadi ya selayaknya para penyemangat, mereka berfungsi untuk (hanya) menyediakan tempat. Mau itu kelebaran apa ga, yang penting temen-temen di grup facebook pena hitam termotivasi untuk terus belajar berkesenian.
Eh, tapi kemarin mas didik sempet jelasin kalau sistem pemilihan karya di fanzine itu juga pake pertimbangan kok. Katanya, aslinya yang masuk karyanya banyak. Terus dipilihin sama mas didik dan mas rio mana yang sesuai sama temanya. Jadi, kalau menurut oming, sistem pemilihan karyanya udah bener. Cuma pedoman dasar sistem itu (disini maksudnya tema dan spirit empower) itu yang kayaknya bisa lebih “garang” lagi. Menurutmu gimana?
H: Ya gitu, kalo cuma akomodir, harusnya facebook itu cukup. Yang di majalahin harusnya yang emang terpilih dan disesuaikan bener-bener. Kan ada proses seleksi disini, jadi harusnya seleksinya diperjelas dan dipertegas (bisa juga proses seleksi diperketat lebih dahulu lewat pemilihan tema yang lebih sempit). Beda cerita sama katalog punya tugitu sama model daging tumbuh yang emang modelnya tanpa seleksi. Ini kan mereka menyatakan ada proses seleksi, jadi ya sikat aja sekalian, gak apa-apa. Toh selalu ada tempat di facebook buat mereka yang gak lolos seleksi. Apalagi, seniman yang kebiasa nggambar sangar, pasti bukan model seniman yang gampang ngambek kalo karyanya gak lolos seleksi kan?
O: Kalau menurutmu rendahnya tingkat seleksi di pena hitam ini bisa dilihat dari apanya?
H: Gampang aja ngeliatnya sebenernya, kalo konsep kurasinya pas , pasti tanpa baca temanya kita udah tahu “judulnya”. Di pena hitam ini, gak keliatan temanya, dan ternyata setelah baca “judul” temanya, ternyata masih belum kelihatan juga korelasi tema itu sama karya-karya yang ada. Kalo mau dipaksain cari-cari korelasinya sih bisa aja. Tapi itu kan ndak asik juga.
O: Iya sih. Kayak pembacaan atas karyanya cuma dipermukaan aja. Yang karyanya pakai simbol-simbol nakal dan vulgar, langsung aja gitu cocok buat tema bad-ass. Atau yang karyanya berdasarkan cerita iblis serem langsung aja gitu cocok buat tema devil. Ditambah lagi sama tema yang udah kadung terlalu besar. Jadi gagap.
Ini antara mereka ga tega nyeleksi atau benernya emang ga pengen terlihat melihat lebih dalam. Soalnya kalau dari ngobrol kemarin, mereka kayak ga pengen dipandang sebagai “penilai” yang serius mengkritisi karya. Mereka pengennya dipandang sebagai “penolong”. Ini bisa dilihat dari alasan mas didik ga mau pake kata “kurasi” waktu oming bahas soal kurasi di fanzinenya. Katanya, dia ga mau jadi eksekutor yang menentukan mana karya yang baik atau mana yang buruk. Padahal, dari sistem pemilihan karya di fanzinenya, dia sebenarnya udah melakukan itu, cuma masih kurang.
Lagipula, kegiatan mengkurasi kan sebenarnya ga cuma sekedar menilai baik dan buruk. Tapi juga berani mengkritisi karya, yang mana disini maksudnya melihat lebih dalam. Bukan mengkritisi buat cari-cari kesalahan. Cuma emang tanggung jawabnya besar. Kalau alasan kurasinya ga kuat bisa diprotes banyak orang. Nah, ini kayaknya yang ga berani ditanggung sama mas didik dan mas rio.
H: Iya ey, eman lah. Selain itu, lepas dari tema, beberapa karya juga agak misplaced. Kayak karya Amenkcoy itu bagus, keren malah. Tapi kalo dimasukin sini ndak masuk, karya Agugn juga. Jadinya kayak belang.
Karya Morgan juga aneh, yang biasanya epic disini ndak jelas. Punya Prisa juga sekali lagi bikin belang. Kesannya malah nama-nama itu diajak masuk buat “ngangkat” pena hitam aja. Padahal mungkin maksudnya nggak seperti itu.
O: Kalau karyanya Amenk dan Agugn itu menurutmu ga masuk karena beda genre eksekusi ya? Kalau soal beda-beda genre secara visual itu kemarin udah oming tanyain. Katanya, mereka emang sengaja masukin karya yang beda genre itu. Maksudnya, biar pena hitam secara visual ga cuma tengkorak atau rangka tubuh manusia aja isinya. Mereka bilang kalau mereka ga pengen “hitam”nya pena hitam itu cuma dari simbol-simbol visual tetapi juga dari konsep atau cerita dalam karya itu. Kalau dalam eksekusinya ga pake tengkorak tapi konsepnya menurut mereka cukup “hitam”, maka mereka masukin di fanzine.
Soal karya Morgan itu juga udah oming tanyain. Kata mas rio, karya Morgan di fanzine itu emang karyanya yang seharusnya dipersiapkan untuk diwarnain. Jadi hasilnya gitu deh. Ga rapi dan aneh.
Tapi, kalau emang menurut mereka karya Morgan itu aneh dan ga Morgan banget, kenapa dimasukin ya? Jadi tiba-tiba mikir kalau mereka beneran masukin nama Morgan buat ngangkat pena hitam. Heuheu.
H: Nah, anehnya kalo emang semangatnya ngangkat yang “hitam” kok mostly isinya yang tengkorak ya? Gak imbang porsinya. Itu yang bikin jadi keliatan belang.
Kalo misalnya nama-nama tadi buat dimasukin buat ngangkat aja, juga nanggung. Kenapa ndak sekalian misalnya masukin Arian, Unbound Speedkill, Ken Terror, atau Riandi Karuniawan?
O: Kalau kamu nanyainnya gini, maka pastinya mereka akan jawab. “Lha, ini kan masih edisi pertama mas. Jadi masih banyak yang kurang. Nanti di edisi kedua, kami pasti tambah senimannya dan lebih baik lagi seleksinya.” Begitu. Kenapa oming bisa ngira begitu jawabnya? Karena waktu kemarin oming tanya kenapa kurasinya terasa lemah, mas didik menjawab begini: “Kalau edisi pertamanya langsung ngonsep banget kan kayak sok-sokan gitu ming. Rencanaku nanti di edisi ketiga atau keempat kita kuatin konsepnya. Nanti kan orang-orang bisa lihat bagaimana peningkatan standard fanzine hitam ini dari segi pemilihan karya. Kalau masih pertama, ya perkenalan dulu lah,” begitu jawabnya kira-kira.
Heran deh ya. Mas didik dan mas rio itu kan kapasitasnya udah besar buat ngonsep yang kuat dan serius. Pengalaman juga udah cukup banyak dalam bidang ini. Kenapa mesti nunggu di edisi ketiga atau keempat buat jadi bagus? Kalau bisa bagus dari pertama kenapa harus ditunda?
H: #menganggguk #pelan