:3

:3

Mengenang Artivism

image

Artivism pernah menjadi salah satu kelas pilihan di acara SWITCHCAMP, di Wildlife Rescue Center, Kulonprogo, Yogyakarta. Sebuah acara yang diadakan oleh organisasi lingkungan hidup bernama 350indonesia dengan tema Global Powershift. Acara ini diselenggarakan selama tiga hari, tepatnya dari tanggal 20 – 22 Maret 2014, dengan peserta yang berasal dari banyak kota di Indonesia.

Saat itu, fasilitator artivism adalah Nova Ruth dibantu Deugalih, Taring Padi, Digie Sigit, Wukir Suryadi, Rully Shabara dan Tebo Aumbara. Mereka bekerja bersama sebagai satu kelompok kerja. Sedangkan, saya? Saya menjadi sukarelawan yang mendapat tugas tetap sebagai Liason Officer pemateri dan bantu tulis-tulis untuk sie media. Jadi, kalau bisa dibilang, saya seperti pemain gelandang dalam sepak bola: kemana saja boleh. Suka-suka saya.

Karena saya bahagia mengikuti acara tersebut, kenangan akan tiga hari itu terus melekat dalam pikiran saya. Khususnya memori tentang apa saja yang diajarkan kelas artivism pada saya. Mengingat banyak yang bertanya pada saya tentang apa itu artivism, saya memutuskan untuk menuliskan segala sisa-sisa memori yang masih melekat itu. Saya lebih memilih menulis kenangannya daripada mendefinisikannya langsung karena pada dasarnya, untuk mengenal lebih dekat artivism, bisa dilakukan dengan memahami prinsip kerja artivisnya. Bahwa artivism bukan cuma belajar gambar dan nyanyi. Semoga membantu.

Salam sayang,

Oming :)

Pendopo artivism itu bersebelahan dengan danau. Tiang penyangganya, kalau tidak salah, ada empat belas. Semua terbuat dari kayu. Di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang pendopo masing-masing disangga empat tiang. Lalu ada dua tiang menyangga di tengah pendopo.

Saat saya datang, tiang-tiang itu sudah ada isinya. Di sebelah kanan, dua tiang sudah digunakan untuk spanduk. Spanduk milik Taring Padi. Sementara itu, dua tiang sisanya sedang dipasang spanduk yang lain. Tetap spanduk milik Taring Padi. Spanduk yang gambarnya luar biasa detil. Saya hampir tak percaya semua itu dikerjakan dengan teknik cukil.

Ming, tolong operin tali kasur ming,” teriak seseorang, saat saya sedang asik menikmati karya Taring Padi. Saya bingung mencari asal suaranya. “Ming, diatas sini ming. Tolong itu tali kasur di dekatmu. Operin kesini.” Saya mendongak keatas. Oh, itu ternyata suara Galih. Galih-nya “Deugalih and Folks”. Dia sedang berdiri di atas kursi, terlihat kesulitan memegangi spanduk Taring Padi. “Nyooh,” jawab saya, sambil memberinya seutas tali kasur yang saya ambil dari meja sebelah. “Makasih. Bantu pegangin spanduk ya ming,” ujarnya lagi sambil senyum-senyum. Saya tak bisa menolak. Saya pun membantunya memegang ujung spanduk, biar Galih lebih mudah mengikatnya ke tiang. Sembari memegangi spanduk, saya perhatikan sekitar. Sungguh ramai.

Di sudut pendopo yang lain ada Mbak Nova Ruth. Di sebelahnya ada Mas Sigit. Eh, apa itu yang sedang mereka pegang? Oh, spanduk. Mereka mungkin mau mulai mensketsa spanduk buat besok. Biar tinggal diwarnai saja. Iya bukan sih? Iya benar. Itu Mas Sigit sudah mulai menggambar. Mbak Nova juga mulai ikut di sebelahnya. Biar cepat pastinya. Tapi, kalau cuma berdua bukannya masih kurang tenaga? Eh, itu beberapa panitia juga mulai kut membantu. Baguslah. Semua saling urus.

Tunggu. Itu siapa ya yang sedang duduk bersandar di tiang? Tebo bukan? o, ya Tebo. Benar. Aku lupa. Itu topi fedora dan rambut panjang Tebo. Tak ada lagi yang seperti dia. Seharusnya, dari awal aku tahu. Lho, tapi mau kemana dia? Kok berjalan keluar dari pendopo? Sebentar. Mau cek sound system kayaknya ya? Besok pagi kan dia tampil, kolaborasi dengan Mas Rully dan Mas Wukir. Oya, aku benar. Itu ada Mas Wukir dan Mas Rully sedang mengobrol dengan panitia. Pasti mereka mengurus persiapan untuk besok pagi. Jadi, penasaran seperti apa wujud karyanya. Seniman gila semua. Aah..

Hmm.. ya.. ya.. ini sibuk, itu sibuk. Hujan dari tadi kok ga berhenti. Jalan jadi licin. Kasihan panitia yang gotong-gotong sound system. Panitianya rajin-rajin. Mereka mulai datang ikut beres-beres. Ada beberapa yang mampir cuma untuk mengecek sampai sejauh mana persiapan kelas artivism. Jadi, tambah penuh pendopo ini. Ada siapa lagi sebenarnya disini?

Oh, itu ada Mbak Fitri. Mbak Fitri dari Taring Padi. Dia sedang melapisi potongan kayu dengan cat hitam sendirian. Berarti itu potongan-potongan kayu untuk cukil. Banyak sekali itu potongan kayunya ya. Sepertinya besok peserta kelas ini lumayan banyak. Setelah Galih selesai, aku kesana ah. Bantu-bantu. Ngomong-ngomong kok lama sekali Galih mengikatnya. Sudah jam sepuluh. Lih? Sudah selesai belum sih?

Kesibukan itu terjadi di malam tanggal 19 Maret 2014, sehari sebelum acara SWITCHCAMP resmi dibuka esok harinya. Kondisinya malam itu agak sedikit kacau karena hujan datang, agak deras. Persiapan di pendopo artivism jadi sedikit berantakan. Tiga mas-mas seniman “gila”, Wukir Suryadi, Rully Shabara, dan Tebo Aumbara jadi menunda cek sound mereka karena hujan. Fitri dari Taring Padi, juga jadi kesulitan membawa perlengkapan workshopnya dari penginapan ke pendopo. Nova Ruth dan Digie Sigit jadi kalang kabut menyelamatkan spanduk di lantai dari percikan air hujan dan lumpur. Semua sibuk melindungi barang masing-masing. Mereka tak ingin persiapan kelas artivism berantakan cuma gara-gara hujan.

Kita seniman profesional. Jadi, semua harus disiapkan dengan matang. Biar besok lancar,” kata Nova Ruth. Saya mengangguk mendukung sambil masih memegangi spanduk, membantu Galih.

Tekad Nova Ruth ini memang perlu ada. SWITCHCAMP bukan acara main-main. Acara yang diinisiasi oleh komunitas lingkungan hidup bernama 350indonesia ini punya visi yang serius: mencoba mengatasi masalah energi dengan mencari tahu bagaimana caranya mengajak masyarakat beralih pada energi yang terbarukan lewat kampanye, atau bahasa kerennya global powershift. Kalau mengingat masalah bangsa ini di masa depan, yang diperkirakan tak jauh-jauh dari masalah pangan dan energi, maka pembahasan tentang energi terbarukan ini menjadi penting dan wajib. Tak heran seluruh pihak yang terlibat di dalam acara ini sebisa mungkin menjalani perannya masing-masing dengan maksimal.

Ada empat kelas di SWITCHCAMP yang diharapkan bisa menjalankan fungsinya dengan maksimal saat itu. Pertama, ada kelas NVDA (Non-Violent Direct Action) yang berperan membekali peserta tentang bagaimana caranya berkampanye tanpa kekerasan dan efisien. Kedua, ada kelas media and communication yang berperan membekali peserta tentang strategi memilih media yang tepat, sesuai pesan kampanye. Ketiga, ada kelas creative resourcing yang punya tugas membekali peserta dengan ilmu mencari dana untuk kampanye kalau kampanyenya memang butuh dana. Dan, yang terakhir, ada kelas artivism yang punya peran mengajak peserta merancang kampanye yang tepat guna sekaligus menyenangkan. Tunggu. Apa cuma itu ya peran artivism? Kok saya tiba-tiba ragu. Kok sepertinya lebih dari itu.

Ngomong-ngomong Galih lama sekali mengikat spanduknya. “Udah kelar belum lih?” teriak saya dari bawah.

Sip ming. Udah.

Bagus. Saya bisa beralih ke Mbak Fitri dan tumpukan potongan-potongan kayu itu. “Ada yang bisa dibantu mbak?” tanya saya sopan, yang dijawab dengan senyuman manis nan lelah.

Sini ming.”

Aku punya banyak pertimbangan ketika memilih Sigit, Taring Padi, juga Galih sebagai pemateri. Sigit adalah solo artist yang tak pernah menunggu orang lain untuk merealisasikan ide-idenya. Dia melakukan intervensi lewat seni stensilnya di siang hari, sementara yang lain baru berani bikin stensil di dinding kota waktu malam. Dia tak takut apapun. Kalau Taring Padi, mereka adalah kelompok kerja kolektif. Mereka berkesenian bersama-sama. Satu buah karya bisa melalui proses diskusi yang panjang. Sementara Galih, dia pendongeng solo yang selalu memasukkan kebijakan lokal dalam karyanya. Dia punya cara sendiri mendekati masyarakat. Dia punya toleransi dan kompromi yang mungkin di seniman lain jarang ada karena yang mereka bicarakan biasanya hanya ‘aku’. Artinya, aku mengundang mereka karena aku ingin menunjukkan kalau kita bisa kerja sendiri atau bersama-sama dan hasilnya bisa sama bagusnya. ”

Tanggal 20 Maret 2014. Nova Ruth membuka pagi saya dengan penjelasan tentang alasannya memilih Digie Sigit, Taring Padi, juga Galih sebagai pemateri. Alasan-alasan ini membuat kelas artivism perannya lebih dari mengajarkan peserta tentang cara merancang kampanye yang menyenangkan. Saya yang sedang sibuk menyantap nasi goreng sambil berdiri, menggangguk tanda paham. Tak susah bagi saya untuk mengerti alasannya karena memang Nova Ruth pintar membuat segala keputusannya jadi masuk akal.

Iya mbak. Bener kamu,” jawab saya singkat, sambil tentu saja, angguk-angguk. Saya tak bisa lagi lebih setuju dengannya.

“Ah, kamu. Setuju-setuju aja,” ujarnya sambil tertawa ringan. Saya yang memang aslinya benar-benar setuju, jadi heran. Kok dia meragukan ketulusan penilaian saya atas keputusannya. Saya tak lagi menjawab. Ada yang lebih penting yang harus saya lakukan: menghabiskan nasi goreng yang masih setengah jalan. Pagi itu, tepatnya pukul 8 pagi, akan ada seremonial pembukaan SWITCHCAMP. Dan saya tak ingin ketinggalan penampilan kolaborasi dari Senyawa dan Tebo Aumbara. Ini alasan utama saya lainnya bersedia menjadi sukarelawan.

Hurdy Gurdy, Wukir Suryadi, Rully Shabara, Tebo Aumbara, danau, kupu-kupu, rumput, wangi hujan tadi malam, pepohonan, gemericik ikan, daun-daun gugur, suara Owa Jawa, air mata. Saya belum mati. Ini bukan surga. Tapi kenapa rasanya demikian?

Sekitar pukul 3 sore, masih di tanggal 20 Maret 2014. Pendopo di sebelah danau itu terlihat sudah penuh dengan peserta. Jumlahnya kalau tidak salah 20 orang. Karena pendoponya lumayan kecil, 20 orang sudah cukup membuat suasana ramai. Semua duduk, tak ada yang berdiri. Begitu pula dengan Digie Sigit yang sedang presentasi karya-karya stensilnya di dinding-dinding Yogyakarta. Saya datang dengan terengah-engah. Sejak pagi, setelah menikmati penampilan Senyawa dan Tebo Aumbara, saya sibuk mondar-mandir Kulonprogo – Yogyakarta dengan mobil untuk antar jemput pemateri lain yang datang dari luar kota.

Duduk sini ming. Istirahat dulu,” sapa Mas Arie dari Taring Padi, ramah. Dengan pasrah, saya menerima ajakannya dan duduk disampingnya. Saya lalu minum tiga teguk air putih dari tempat minum yang saya bawa dari rumah, berusaha menyegarkan tenggorokan. Nafas saya serasa mau putus. Ternyata fisik saya kurang olahraga.

Kalau menggambar di dinding orang bukannya menyalahi aturan ya mas?” tanya seorang peserta pria tiba-tiba, menarik perhatian saya.

Begini. Kita harus tahu prioritasnya. Saya, lewat karya saya, melawan iklan dari perusahaan-perusahaan kapitalis di dinding-dinding publik karena itu tak sehat untuk kita, membuat kita semakin konsumtif. Saya juga melawan street art yang jelek visualnya karena itu sama tak sehatnya dengan iklan untuk kita. Mereka polusi visual. Jadi, kalian harus tahu mau menyampaikan pesan apa. Biar ga jadi polusi,” kira-kira jawab Mas Sigit dengan lembut dan yakin.

Saya yang mendengar jawabannya langsung terbangun dari rasa lelah yang mendera. Tiba-tiba, pikiran saya menelusuri ingatan tentang karya-karya Mas Sigit yang memang pesannya jelas dan dikerjakan dengan rapi, pula sangat memperhatikan estetika. Sepertinya, bagi Mas Sigit, dinding publik yang digunakan harus diperlakukan hormat bak kanvas yang mahal: sulit dibeli, jadi harus hati-hati. Jadi, mikir. Kalau mereka yang corat-coret seenaknya abstrak warna-warni merusak mata dengan pesan “fuck”, “brengsek” atau “jahanam”, apa arti dinding publik bagi mereka?

Baru saja saya ingin meneguk air lagi dari tempat minum sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan saya sendiri, smartphone saya bergetar. “Ming, tolong pembicara dari JATAM diantar ke bandara ya. Sekalian sama Mbak Ira dari kitabisa.co.id. Antar pake mobil sama mas bari. Kalau mau berangkat, kabarin aku. Aku mau ngasi fee,” bunyi pesan singkat dari koordinator LO, Rina.

Oke,” balas saya singkat. Lalu berjalan lunglai meninggalkan pendopo, meninggalkan materi presentasi Mas Sigit, mencari Pak Bari, supir yang sudah disewa tiga hari beserta mobilnya untuk transportasi pemateri. Here we go again.

Tanggal 21 Maret 2014, pukul 7 pagi. Tubuh saya mulai terasa retak-retak setelah hari sebelumnya bolak-balik Yogyakarta – Kulonprogo sampai pukul 11 malam. Saya tak mengira pekerjaan sebagai LO pemateri begitu melelahkan. Padahal, cuma jemput antar naik mobil. Saya tak membayangkan teman-teman lain yang punya tugas lebih berat. Mereka pasti lebih lelah dari ini. Tapi, hebatnya mereka bisa bangun lebih pagi dan menyempatkan diri olahraga SKJ bersama. Saya terlambat jauh. Dengan berjalan ngantuk, saya pun mandi.

Ming, mulai hari ini, tugasmu nulis saja ya. Ndak usah mikirin tugas LO. Kami perlu artikel untuk dipublish. Oke sip?” kata Mas Syaiful, penanggungjawab acara SWITCHCAMP, menyambut saya keluar dari kamar mandi.

Oke,” jawab saya singkat. Ini bagus, pikir saya. Saya bisa meluangkan waktu lebih banyak di kelas artivism. Saya kangen teman-teman artivis. Kalau tidak salah, hari ini agenda mereka adalah workshop cukil dan mewarnai spanduk yang kapan hari sudah digambar sketsanya sebagian oleh Mas Sigit dan Mbak Nova. Pasti energinya menyenangkan untuk menemani saya menulis.

Benar saja. Sesampainya saya disana, beberapa peserta sudah mulai menggambar sketsa di atas kayu. Ini baru pukul 8 pagi, dan mereka sudah lengkap berkumpul di pendopo.

Teman-teman peserta ini keren sekali lho ming. Padahal kan aku suruh mereka bikin kelompok untuk cukil kayunya. Eh, malah milih sendiri-sendiri. Semangat sekali,” cerita Nova Ruth pada saya sambil tersenyum senang. Saya yang baru sampai sambil memegang segelas kopi yang terlalu manis, ikut bahagia. Saya bahagia karena beberapa hari terakhir, saya sudah terlalu banyak bertemu anak muda yang pesimis dan lemas. Jadi, melihat anak-anak muda di pendopo artivism itu berbinar-binar sambil menggambar sketsa di potongan kayu masing-masing, saya terenyuh. Berlebihan ya? Maaf, kalau soal begini, saya memang sentimentil.

Sesungguhnya, dalam hati, saya menilai apa yang terjadi pagi itu cukup banyak dipengaruhi oleh prinsip kerja pemateri artivism. Dalam hal ini, Nova Ruth, teman-teman Taring Padi, Digie Sigit, dan Deugalih. Saya masih ingat ketika Nova Ruth bercerita tentang perkenalan pertama mereka dengan peserta yang sempat saat lewatkan karena tugas LO yang menyita waktu saya.

Waktu pertama kami berkenalan, aku bilang kalau semua yang disini adalah seniman. Aku mengingatkan kalau pekerjaan seni itu bukan cuma melukis di atas kanvas, menggambar dengan tinta cina, bikin musik, atau cukil kayu. Aku bilang, memilih baju di pagi hari untuk dipakai seharian juga adalah pekerjaan seni. Merancang kampanye peduli lingkungan yang efisien, pesannya mudah diterima dan tepat sasaran juga adalah pekerjaan seni. Jadi, seni tak punya batasan. Maka dari itu, status seniman pun bukan cuma milik segelintir orang. Semua adalah seniman,” kurang lebih kata Nova Ruth. Kalau begini yang disampaikan Mbak Nova waktu mereka berkenalan, tak heran peserta jadi lebih percaya pada kemampuan diri. Saya saja yang mendengarnya jadi introspeksi.

Tapi, bukan cuma perkataan yang mempengaruhi peserta, menurut saya. Ada prinsip kerja dari pemateri artivism, yang entah disadari atau tidak, menular pada peserta. Prinsip kerja yang membuat peserta rajin datang pagi-pagi tepat waktu ke pendopo, mengambil potongan kayu untuk dicukil, lalu menggambar sketsa tanpa banyak omong. Ini mungkin terlihat sederhana. Tapi, kalau mengingat lagi banyak anak muda yang lebih banyak cincong dan khawatir soal citra daripada kerja tangan, melihat prinsip kerja seperti ini benar-benar membuat senang.

Teman-teman, tolong ya. Kerjanya dipercepat. Dua jam lagi kita akan ke Poncosari. Cukil kayunya yang sudah selesai, segera disablon di kertas. Yang sudah nyablon hasil cukil kayunya, tolong bantu Rara mewarnai spanduk. Banyak ini yang perlu diwarnai. Tim spanduknya dibagi dua. Satu sebelah kiri, satu sebelah kanan. Yang mau nggosip, ditunda dulu, atau keluar saja biar tidak mengganggu yang lain. Kita perlu menyelesaikan ini. Kerja yang cepat,” teriak Nova Ruth tiba-tiba sambil membantu seorang peserta menyelesaikan karya cukilnya. Oh, ini yang mereka tularkan.

Tanggal 22 Maret 2014. Pukul 8 malam. Ini adalah malam terakhir, penutupan SWITCHCAMP. Semua, baik peserta maupun panitia juga pemateri yang masih belum pulang, berkumpul di aula utama Wildlife Rescue Center (WRC), Kulonprogo. Mimimintuno, duo yang terdiri dari Nova Ruth dan Tokek, baru saja selesai tampil dengan lancar. Mereka membawakan sekitar empat atau lima lagu, saya lupa. Saya terlalu lelah untuk mengingat. Sembari menunggu penampil berikutnya, yaitu Deugalih, saya yang bertugas untuk merekam penampilan mereka sampai selesai, meregangkan tangan, kaki, juga punggung. Sementara itu, peserta yang bertindak sebagai penonton bertepuk tangan senang.

Ada yang membuat saya kecewa…”.

Lho, suara Galih. Sejak kapan Galih sudah di panggung? Cepat sekali persiapannya. Sebentar. Kamera siap. Kaki dan tangan siap. Oke. Sip!

“Ada yang membuat saya kecewa. Tadi waktu Nova Ruth tampil, ada beberapa anak di barisan belakang yang ngomong sendiri dengan sedikit keras, hingga mengganggu yang lain. Saya bukannya membedakan. Tapi, anak-anak dari kelas artivism tahu artinya cara menghormati. Mereka tak akan berbicara sendiri kalau ada yang sedang berbicara. Mereka akan mendengarkan dengan seksama. Mereka tahu, ada waktunya sendiri untuk berbicara, ada waktunya untuk mendengarkan. Demikian juga kalau ada yang sedang tampil di depan, bernyanyi. Mereka tahu, berbicara sendiri akan mengganggu penonton yang lain yang ingin menikmati pertunjukkan. Jadi, mas-mas yang dibelakang sana. Ya, kalian yang disana. Tolong kalau mau berdiskusi di luar saja. Toh, kalau diskusi di luar kalian juga bisa lebih nyaman diskusinya. Kasihan yang lain, yang ingin menikmati pertunjukkan.”

Galih mengawali penampilannya dengan teguran. Dia terlihat sedikit kesal dan berusaha menahan marah. Sebenarnya, sebelum ia tampil, ia sempat menyampaikan keluhannya itu pada saya. Jadi, saya tak terlalu kaget ketika ia menyampaikan keluhnya itu di depan umum. Apalagi ada situasi yang memicunya: mas-mas di belakang sana yang berdiskusi dengan cekikikan saat pertunjukkan berlangsung, membuat teman-teman di sekitarnya mengerenyitkan dahi tanda tak suka.

Aku agak ga suka dengan mental anak muda yang suka ngomong di belakang. Maksudnya, gini ming. Kayak kemarin. Waktu ada presentasi dari teman-teman di daerah soal masalah lingkungan di sekitar mereka. Waktu itu kan di sebelahku ada yang ngobrol sendiri, ngomongin batu bara. Aku kira dia lagi butuh diskusi sebelum nanti dia presentasi di depan, jadi aku biarin meskipun itu mengganggu konsentrasiku mendengar yang lagi presentasi. Eh, ternyata waktu ditanya Mbak Nova, siapa yang mau presentasi lagi, dia ga maju-maju ke depan. Terus waktu yang maju temannya yang lain, lagi presentasi, dia sibuk ngobrol sendiri lagi. Aku kan kesal. Maksudku, kalau kamu punya masalah yang ingin didiskusikan, maju saja ke depan, biar diskusi bareng-bareng. Ga perlu ngomong di belakang, mengganggu yang lain. Ada juga yang nanya cuma buat nge-tes pengetahuan yang lagi presentasi. Ngapain coba? Apa yang mau dibuktikan?” keluh Galih sesaat sebelum ia tampil.

Saya, secara pribadi, memahami kekesalan Galih. Tapi, ya memang anak muda tidak semuanya punya kualitas bagus. Ada yang masih bingung dengan eksistensi daripada mencari solusi, ada yang masih takut berbuat salah daripada belajar dari kritik, ada yang lebih memilih sibuk mendefinisikan istilah daripada turun ke lapangan mendata masalah yang perlu diselesaikan, dan yang lain sebagainya.

Tapi, Galih, kamu tak usah khawatir. Dunia ini selalu berupaya menyeimbangkan diri. Jadi, diluar golongan anak-anak muda yang cemen itu akan selalu ada anak-anak muda yang keren lainnya. Hanya saja karena mereka seringnya bekerja di balik layar, kita jadi sering lupa kalau mereka itu ada. Bukankah anak-anak di kelas artivism juga adalah termasuk yang punya mental baik itu? Tenangkan dirimu ya, Lih. Mulai saja nyanyinya..

Seakan mendengar kata hati saya menjawab keluhnya, Galih mulai bernyanyi. “Buat Gadis Rasyid” pun mulai mengalun di aula.

Antara daun-daun hijau // padang lapang terang // anak-anak kecil tidak bersalah // baru bisa lari-larian // burung-burung merdu // hujan segar menyebar // bangsa muda menjadi // baru bisa bilang “aku”…

"jerawat-jerawatku membuatku berwajah bumi: berlembah-lembah dan bergunung-gunung :)"

apa yang aku pahami tentang kesetiaan

Kesetiaan adalah soal balas budi.

Balas budi yang adil dan detil. Bentuknya bisa macam-macam, disesuaikan dengan budi yang ingin dibalas. Misalnya saja, kamu ingin membalas budi baik istrimu yang setiap pagi menyiapkan sarapan. Ada beberapa pilihan bentuk balasnya: pertama, memakan sarapan buatan istrimu itu dengan lahap, lalu memujinya setelah makanmu habis. Kedua, mencuci sendiri piringmu. Ketiga, memijat tengkuk istrimu. Keempat, mencium kening istrimu sebelum berangkat kerja. Kelima, mengucapkan “aku sayang kamu”, “kamu cantik hari ini”, dan “aku pulang untuk makan malam” sebelum istrimu mengucapkan “hati-hati di jalan”. Dan keenam, mengulangnya lagi di pagi selanjutnya agar istrimu menyediakan sarapan enak yang sama, bahkan diharapkan lebih. Maka kamu akan menjadi setia. Setia dalam suka.

Kesetiaan adalah soal hitung-hitungan.

Hitung-hitungan yang seimbang debit kreditnya. Jadi, pasak dan tiang sama besarnya. Misalnya saja, kamu tahu suamimu keras bekerja sampai malam. Baru jam 12 malam suamimu pulang. Kamu tahu, suamimu begitu agar bisa membayar cicilan rumah, tagihan listrik dan air, baju-baju yang kamu pakai, makanan yang kamu makan, sepatu yang kamu incar, buku-buku sekolah anakmu, dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Kamu hitung, berapa besar tenaga, waktu, dan pikiran yang dikorbankan suamimu untuk kebutuhan keluarga. Kalau sudah, kamu bayar di pagi hari esoknya.

Kamu masak makanan kesukaan suamimu yang memberinya tenaga untuk bekerja seharian penuh. Kamu seduhkan teh atau kopi sebagai penenang agar dia semakin maksimal bekerja dan menghasilkan banyak uang. Tapi, jangan sampai berlebihan. Sesuaikan dengan apa yang suamimu hasilkan. Be flexible. Biar kalau suatu hari nanti penghasilan suamimu lebih kurang dari hari-hari yang lain, kamu tak akan sakit hati. Dan kamu bisa memberikan senyuman baik-baik saja untuk menenangkan suamimu. Maka kamu akan menjadi setia. Setia dalam duka.

Itulah kenapa perselingkuhan lawan dari kesetiaan. Karena biasanya perselingkuhan terjadi tanpa ketahuan. Jadi, pihak yang lain dalam rumah tangga berpotensi salah hitung. Pasak jadi lebih besar dari tiang, jadi rugi, jauh dari untung. Kalau saja dari awal sudah disepakati bahwa mengambil keuntungan dari orang ketiga dibolehkan dan diharuskan transparan, maka hitung-hitungan balas budi akan lebih mudah dilakukan. Dan sakit hati, marah-marahan, bisa dihindari.

Lalu soal anak?

Aku tak ingin membicarakan soal anak. Hitung-hitungan untung rugi masih kacau kalau melibatkan anak. Nanti saja kalau sudah ketemu formula hitungnya. Aku coba-coba dulu di microsoft excel.

Ming, cukup.

What’s wrong with you?

RIP Gaban. Teman tidur kesayangan yang pertama kali berhasil menjauhkan saya dari mimpi buruk.
I love you so Gaban. Salam untuk gadis-gadis surga.

RIP Gaban. Teman tidur kesayangan yang pertama kali berhasil menjauhkan saya dari mimpi buruk.

I love you so Gaban. Salam untuk gadis-gadis surga.

usahaku agar baik-baik saja #5

Mulai mengganggap serius cara makan.

Makan dengan mangkuk cekung agar tak perlu menggunakan garpu, jadi tanganku yang satu bisa digunakan untuk menopang pipi dan dagu. Mengunyah makanan dengan pelan-pelan saja dan rasakan setiap tekstur lauk di lidah. Agar lebih santai saat makan, bolehlah main-main dengan menguji teori pembagian kuncup pengecap rasa. Kalau bosan, diam sebentar, pergi ke dapur, bikin air panas, lalu menyeduh teh. Biar saja makanannya dingin, yang penting habis.

salam,

usahaku agar baik-baik saja #4

Mulai mengganggap serius tempo mengetik aka menulis.

Mengetik di laptop tak perlu cepat-cepat. Metode sepuluh jari tak perlu selalu dituruti. Sesekali mengetiklah dengan hanya telunjuk kiri dan kanan saja, biar pelan-pelan. Boleh sesekali mengagumi sebentar kata-kata yang muncul di layar, bersyukur pada Tuhan masih punya tangan untuk menulis dan mengetik. Jika lelah, ambil kuas pembersih lalu mulai membersihkan keyboard meski tak terlihat kotor. Sambil begitu, atur nafas seiring dengan sapuan kuas, rilekskan pundak, putar phantogram, lalu berdansa. Kalau sudah ingin mengetik lagi, langsung saja mengetik lagi. Jangan banyak khawatir. Be gentle with myself.

salam,

usahaku agar baik-baik saja #3

Mulai mempertimbangkan serius cara berbicara.

Berbicara tak perlu cepat-cepat. Lawan bicaraku tak akan lari kemana-mana. Berbicara pelan-pelan saja, atur nafas di sela-sela, atur kalimat dengan tenang, dan berhenti jika lelah lalu wakili yang ingin aku sampaikan dengan tulisan atau gerakan tangan. Kalau aku dianggap aneh karena berbicara seperti orang sakit, biarkan saja. Memang begitu adanya. Aku tak perlu menyembunyikan segalanya.

salam,

usahaku agar baik-baik saja #2

Mulai mempertimbangkan serius cara menyapa teman.

Cara menyapa teman tak perlu berlari-larian sambil melambai-lambaikan tangan lalu memulai pembicaraan dengan tanya kabar hubungan cintanya. Cara menyapa teman, cukup dengan tersenyum tenang sambil melambaikan tangan sopan, sedikit membungkukkan badan, lalu bertanya apa kabar. Semua dilakukan dengan pelan-pelan, satu-satu, jangan grasah grusuh, biar aku baik-baik saja. Kalau itu masih belum cukup ramah bagi temanku, tak usah terlalu dipikirkan. Itu bukan hal yang penting untuk dikhawatirkan.

Salam,

usahaku agar baik-baik saja #1

Mulai mengganggap serius titik dan koma saat membaca. 

(.) titik berarti berhenti 4 detik, sebelum lanjut membaca kata berikutnya. Dalam 4 detik itu, nafas diatur, pundak rileks, mulut berhenti mumbling, telinga terfokus mendengar nafas sendiri, pikiran ditidurkan, sesekali minum teh seteguk, bisa juga makan coklat segigit, lalu mengalihkan mata dari objek bacaan. Entah melihat apa. Tetapi, disarankan melihat objek lain yang jaraknya lebih jauh dan kalau bisa berwarna hijau segar.

(,) koma berarti berhenti 2 detik, sebelum lanjut membaca kata berikutnya. Dalam 2 detik itu, melakukan kurang lebih semua yang dilakukan saat bertemu titik. Hanya saja waktunya lebih pendek.

Agar semakin baik-baik saja, maka jangan memaksakan diri untuk senyum saat membaca meski orang lain memintaku demikian. Karena senyum yang disuruh sama sekali tak melegakan. Jauhkan diri dari hingar bingar saat membaca agar pikiran tak melanglang buana lalu tersesat, bingung jalan pulang. Dan yang terakhir, jangan memikirkan pekerjaan saat membaca. Bukan uang yang membuatku hidup sehat, tapi kebahagiaan. 

salam,

aku mengabaikan unii

Unii..

Tahu kan? Iya, Unii yang itu. Unii yang seorang perempuan, penyanyi dan penulis lagu dari Jepang. Unii yang senang bermain-main dengan musik-musik ambient/minimal/experimental/electronica. Unii, yang bulan ini, sedang tur Indonesia dan Kuala Lumpur. Unii yang memasukkan kota Boyolali sebagai salah satu tujuan main. Unii yang berambut sebahu, berkulit putih, dan berbicara dengan lucu. Unii yang kelihatannya ramah dan tenang waktu di panggung. Unii yang kabarnya malam ini, tanggal 27, akan main di Bandung. Iya, Unii yang itu. Unii yang itu yang aku abaikan.

Aku mengabaikan Unii kemarin Jumat, tanggal 25. Waktu ia bermain di lantai dua Houtenhand, Kayutangan. Saat itu, Unii menggunakan dress putih, dengan sedikit rumbai. Rambutnya digelung rapi dan ber-make up natural. Kakinya telanjang, tanpa alas. Itu kalau aku tak salah lihat. Malam itu gelap dan hujan. Aku duduk dekat tembok. Aku bersandar nyaman, sangat nyaman. Jadi, entah Unii benar-benar berkaki telanjang atau aku saja yang berkhayal.

Saat Unii bersiap main, ada sekitar 40 orang menantinya di depan panggung. Houtenhand itu sempit. Jadi, 40 orang yang hadir sudah cukup membuat sesak. Masing-masing dari mereka sibuk dengan aksesorisnya. Bukan aksesoris biasa. Ini aksesoris penenang. Ada yang sibuk merokok, nge-bir, nge-smartphone, nge-kamera SLR, atau mengobrol dengan perempuan-perempuan yang baru dikenal. Mereka seperti tak sabar Unii memulai musik-musiknya yang bikin melayang.

Sedangkan aku? Aku sibuk dengan maskerku sambil sesekali memperbaiki rokku. Rokku pendek. Jadi, kalau duduk pahaku menyembul keluar. Tapi, aku tak panik. Aku tahu. Aku sedang di tempat yang aman bersama teman-teman yang aku kenal baik dan penyayang.

Pukul 21:35..

Inilah waktu dimana aku mulai mengabaikan Unii. Di jam ini, Unii mulai memainkan musiknya. Bekalnya hanya laptop. Di sebelahku, aku dengar temanku berkomentar, “enak ya mbak ini. Cuma bekal laptop aja bisa tur keliling negara”.

Aku ingin menyela. Tapi, urung. Aku paham. Temanku itu bermusik dengan format band. Jadi, wajar kalau ia berkomentar demikian. Ia belum mengerti musik-musik seperti musik Unii, tingkat kesulitannya berbeda. Jadi, sesungguhnya, rasa irinya sia-sia saja. Saat itu, aku biarkan dia. Aku lebih memilih menghabiskan tehku. Sebelum dingin dan tak enak.

Unii memulai dengan lagu yang mana, aku tak tahu. Yang aku tahu, beberapa orang di depanku berdiri diam terpaku. Mereka menonton Unii, seperti menonton band pada umumnya: mata terfokus pada penampil, tangan terlipat rapi, kaki sedikit terbuka untuk menjaga keseimbangan.

Sementara mereka begitu, aku mulai mengeluarkan buku catatan harianku dan sebuah pulpen tinta yang tak mudah macet, berwarna biru. Aku menyamankan posisi dudukku dan berhenti mengkhawatirkan rok pendekku yang ketarik-tarik tak tentu. Di tengah gelapnya lantai dua Houtenhand, dan lampu kelap-kelip, aku mulai mengabaikan Unii. Alih-alih menontonnya, aku menulis. Ini yang aku tulis saat itu. Tanpa edit, tanpa sensor.

Teringat Julia Holter. Unii. Japan. Miyazaki. Seharusnya, mataku tertutup. Unii tak enak dilihat. Tapi, musiknya bikin nyaman. Aku duduk. Tuhan maha baik. Aku merasa seperti salah satu karakter Miyazaki. Maksudnya, aku menjadi ceritanya.

“Musik terhenti di jam 21:50. Terlempar ke dunia nyata. Unii menyapa dengan Bahasa Indonesia. Lumayan lancar dan bisa dimengerti.” – 3 menit

Laut. Deru kapal. Lumba-lumba. Burung camar. Aku. Orang asing berbahasa Jepang. Pulau-pulau kecil. Gerimis di luar. Jas hujan kuning terang. Di sebelah kanan, orang asing berbahasa Jepang memancing ikan. Pelangi. Masih hujan, tapi ada pelangi. Aneh. Diam-diam ada matahari. Aku rasa begitu. Aku basah. Jas hujan kuning terang bocor. Hujan masih deras. Semakin deras. Deras. Deras. Tapi pelangi mash ada. Aneh. Aku lupa. Ini lautan. Tempat segala keajaiban terjadi. Tak masuk akal. Orang-orang mabuk berbahasa Indonesia. Celometan. Orang asing berbahasa Jepang tetap memancing ikan. Hanya aku yang melihat pelangi. Mereka tidak. Mereka sibuk. Aku mulai basah kuyup.

“Musik lagi-lagi selesai di jam 22:00. Tepuk tangan sialan. Kembali ditampar dunia nyata. Aku di Houtenhand. Menulis sendirian.” – 2 menit.

Aku cuma menulis sebentar. Mataku lelah beradaptasi dengan gelap dan lampu kelap-kelip, juga asap rokok dan nafas-nafas berbau alkohol. Di lagu ketiga, aku meneruskan sikap abaiku atas kehadiran Unii, sebagai seorang manusia, dengan menutup mata dan membayangkan pergi ke tempat-tempat yang ingin aku kunjungi. Pantai, laut, kolam renang, padang rumput, hutan hujan, atap gedung, rumah ibu, juga tempat tenang lainnya.

Di lagu keempat, aku membuka mata dan menyadari beberapa orang telah hilang. Entah pulang. Entah turun ke lantai satu untuk memesan makanan. Beberapa teman yang aku kenal juga tak ada. Aku baru sadar kenapa mas Andi Hans, Whistler Post, sebelumnya bilang padaku via twitter, “jangan pulang sebelum neng Unii nya selesai perform ya hehehe.” Ternyata memang Unii berpotensi membosankan kalau penontonnya tak bisa cari jalan lain untuk menikmatinya. Aku memilih jalan “abai”. Mereka memilih jalan “pulang”.

Tapi, itu sah-sah saja. Tidak semua orang tahan dengan harmoni-harmoni santai, anti klimaks. Apalagi mendengarkannya sambil berdiri. Pasti lelah menahan nafsu ingin tidur atau selonjoran di kasur. Rasanya pasti sungguh menggemaskan. Aku paham. Mereka bingung mencari pelarian.

Hari itu, Unii memainkan sekitar 5 atau 6 lagu. Aku tak begitu yakin. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Saking sibuknya sampai aku bahkan, seperti yang sudah aku tulis, tak menyadari penonton sudah banyak berkurang.

Penampilan Unii diakhiri dengan tepuk tangan yang cempreng. Mungkin karena tak terlalu banyak yang menontonnya sampai akhir. Ia menutupnya dengan ucapan terima kasih dan menceritakan agenda mainnya setelah dari Malang: Bandung. Menyadari harmoni-harmoni Unii telah berhenti, aku beranjak turun ke lantai satu. Aku bertemu teman-temanku dan sama sekali tak membahas Unii. Kami malah bergosip tentang DKM dan tukar cerita tentang pacar. Sampai dini hari, kami sibuk memamerkan kegelisahan tentang cinta masing-masing sambil makan es krim. 

Kami seakan lupa. Kami baru saja menonton Unii. Unii dari Jepang.

PS: aku bertanya pada eko kenapa acara Unii tidak digelar di rooftop Houtenhand saja biar yang bingung cari pelarian bisa melihat bintang dan gedung-gedung bertingkat. Eko bilang, “ini karena hujan ming. jadi ditaruh di lantai dua”. Oh, iya. Aku lupa. Hujan!

Memar

Tenggelam kelam // melawan sesal // terampas semua anggun // mendesah ampun // merindu ibu // mencaci bisu // udara penuh ragu // tubuh membiru // putri leluhur // penutur doa // runtuhkan tanda tanya // senyumi noda // basuh tangismu // bunuhlah malu // tidurlah oh gadisku // rayu maafmu 

Dear you,

Watch out darling // boredom can easily kill you // that’s why befriended loneliness // embrace the silence // love the darkness // therefore you’ll be immortal

"if nothing goes right, turn left"

just like my bestfriend said

earth hour itu…

Bikin bingung..

Kalau pihak penyelenggara, atau siapapun itu, yang menginisiasi “Earth Hour” ingin kegiatan mematikan listrik menjadi kebiasaan sederhana sehari-hari, kenapa malah pihak penyelenggara, atau siapapun itu, sendiri yang membudayakan kegiatan mematikan listrik selama satu jam sebagai kebiasaan tahunan yang disambut besar-besaran dan mewah? Tidakkah itu membingungkan?